Kamis, 31 Maret 2011

Menyerang Qiyadah Melumpuhkan Dakwah


Muhammad Abdullah Al Khatib*
...
Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.

Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah antara prajurit dan pimpinan. Sebab bila prajurit sudah tidak memiliki sikap tsiqah pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis.

Oleh karena itulah, maka Imam Asy-Syahid menekankan rukun tsiqah dalam Risalah At-Ta'alim dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bai'at. Imam Asy-Syahid juga menjelaskan urgensi rukun ini dalam menjaga soliditas dan kesatuan jamaah, ia mengatakan:

"...Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah – yang timbal balik - antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Rabu, 30 Maret 2011

Ikhtilaf dimata SalafusSoleh


Saat ini kita hidup pada zaman penuh fitnah, di antaranya fitnah iftiraqul ummah (perpecahan umat). Di antara banyak penyebab perpecahan itu adalah perselisihan mereka dalam hal pemahahaman keagamaan. Hanya yang mendapat rahmat dari Allah Ta’ala semata, yang tidak menjadikan khilafiyah furu’iyah (perbedaan cabang) sebagai ajang perpecahan di antara mereka. Namun, yang seperti itu tidak banyak. Kebanyakan umat ini, termasuk didukung oleh sebagian ahli ilmu yang tergelincir dalam bersikap, mereka larut dalam keributan perselisihan fiqih yang berkepanjangan. Mereka tanpa sadar ‘dipermainkan’ oleh emosi dan hawa nafsu.

Senin, 28 Maret 2011

Anak Kecil Masuk Neraka?

Malam itu sebuah ketukan kecil halus di pintu rumah terdengar. Aku tau anak kesayanganku dan suami baru pulang dari mesjid menunaikan shalat Isya.

“Assalamualaikum, Mamaaaaaa,” ujarnya.
“Wa’alaikum salam, Sayang.” Jawabku dan tangankupun terbuka menyambut dia yang berlari ke arahku. Memeluknya dan memberi kecupan di kedua pipinya.

“Tadi Muhammad ikut shalat. Gak main-main. Nggak lari-lari di mesjid”, katanya penuh semangat.
“Tadi ada anak-anak lebih besar dari Muhammad nggak shalat, kerjanya di mesjid main-main dan berlari-lari saja. Bisa masuk neraka nggak dia, Mama? Dibakar Allah nggak nanti?” Anak lelakiku yang baru berumur 5 tahun bertanya kepadaku.

Waduhhhh... kok sepertinya seram amat yah komentar anakku.

Luarbiasa


Apa yang anda pikirkan ketika mendengar hewan lalat? Jijik, kotor, penyebab penyakit. Ya mungkin itu ada benarnya. Tapi hewan bersayap yang banyak diduga membawa banyak penyakit ini, telah disebutkan Rasul Muhammad salallahu ‘alaihi wasalam 14 abad yang lalu:

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila lalat jatuh di bejana salah satu diantara kalian maka celupkanlah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya”. (HR. Bukhari, Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)
Benarkah?

Jumat, 25 Maret 2011

Ikhtiar Dulu, Baru Tawakal!



Oleh Abi Sabila


Gerimis. Sudah pukul setengah tujuh, namun hujan yang turun sejak subuh tadi belum menunjukan tanda-tanda segera berhenti. Reda sebentar, lalu rintik lagi. Kalau bukan karena hari ini jadwal putriku piket kebersihan kelas, tentu lebih baik aku menunggu sampai hujan agak reda, baru berangkat ke tempat kerja. Takut yang lain sudah pada datang sementara kelas belum selesai dibersihkan, putriku memaksa untuk diantar saat itu juga.


Meski tidak terlalu deras, aku tetap menggunakan jas hujan lengkap. Berbeda dengan putriku yang tidak mau membawa payung atau mengenakan jas hujannya. Kekhawatiranku akan kesehatannya, tak mampu menggugah kesadarannya. Tak ada waktu lagi untuk berdebat, dari pada benar-benar terlambat, akhirnya